Tersesat di Gerbong

Green and Orange Health and Wellness Blog Banner

Ini cerita paling tolol yang pernah saya miliki seumur hidup. Selama 25 tahun saya tinggal di Indonesia yang fasilitas keretanya baru-baru ini saja dimutakhirkan, belum pernah sekalipun saya tersesat, apalagi tersesatnya di dalam gerbong di satu kereta. Tetapi, lagi-lagi, ini, kan, Rusia, bukan Indonesia. Hal aneh macam apa pun bisa saja terjadi di sini. Saya yakin, penggemar video-video ajaib sedang mengamini perkataan saya barusan karena mayoritas video janggal tentang kecelakaan (ini miris) atau kelakuan super duper aneh biasanya berasal dari Rusia. 

Jadi, saat itu saya berniat pergi ke rumah nenek suami saya yang terletak di sebuah kota nun jauh dari Moskow, kota Mozhaisk. Dari rumah saya, yang jauhnya juga seawang-awang dari Moskow, ke kota Mozhaisk itu, kereta menjadi salah satu alternatif transportasi yang lumayan oke, meskipun tidak cepat, tidak nyaman, dan harganya juga, ya, lumayan tidak murah juga.

Nih, gerbongnya...salah satunya, maksud saya

Saya dan suami bersepakat untuk bertemu di dalam gerbong kereta api karena kalau dia turun lagi di stasiun saya hanya untuk menjemput saya seorang, pasti buang-buang waktu, dong. Alhasil, setelah perdebatan cukup alot, kami setuju untuk berkirim pesan ketika suami sudah meluncur dari Moskow dengan kereta tujuan Mozhaisk. Dengan hati kecut dan jantung berdebar-debar layaknya pengantin baru, saya pun menunggu pesan masuk dari suami saya. Dia bilang, dia sudah ada di dalam kereta, di gerbong nomor 5. Silakan cari sendiri. Katanya waktu itu.

Oke. Saya pun mengiyakan, menyanggupi untuk mencari gerbong nomor 5 di dalam sana. Satu-satunya yang harus saya lakukan adalah naik ke kereta yang akan segera tiba dan mencari gerbongnya.

Pikiran saya saat itu adalah hal ini hal paling mudah untuk dilakukan, bahkan untuk orang yang belum bisa mengucapkan sepatah kata pun dalam bahasa Rusia. Sialnya, ternyata saya memang terlalu menyepelekan.

Begitu saya masuk ke kereta yang bagian interiornya masih berbau zaman Uni Soviet itu, beberapa pasang mata mulai memerhatikan saya. Perasaan saya saat itu persis seperti komedian yang telat masuk panggung. Dengan berlagak cuek, saya pun mulai menyusuri satu gerbong ke gerbong lainnya, mencari gerbong nomor 5. Begitu gerbong tersebut ditemukan, saya lantas duduk manis di bangku panjang yang berhadap-hadapan dengan penumpang lain, sambil tangan saya mengetik SMS berisi kabar kepada suami kalau saya sudah sampai di gerbong itu. Mata saya jelalatan, mencari jejak-jejak kehadiran suami yang batang hidungnya pun tak terlihat.

Suami saya mengirimkan SMS balasan yang membuat saya ketar-ketir. Dia bilang, dia sudah ada di gerbong nomor 5. Tetapi, dia tidak menemukan saya.

Wah. Berbagai asumsi dan tuduhan pun mulai kami lemparkan satu sama lain. Entah saya yang salah naik kereta.

Entah mungkin suami saya yang salah.

Akhirnya setelah panjang lebar mengetik SMS sampai tangan saya keriting, diputuskanlah bahwa kami lebih baik bertemu di stasiun tujuan.

Sial, ini kali pertama saya naik kereta di Rusia dan saya malah nyasar. Di gerbong pula, bukannya di tempat lain.

Demi membunuh waktu, saya pun bermain permainan di ponsel, sambil sesekali mengamati perilaku penduduk lokal yang berwajah kelelahan karena kebetulan saat itu adalah jam pulang kantor. Ada yang sibuk tidur dengan dengkuran keras. Ada yang sibuk mengobrol di ponsel, berjuang mati-matian mengalahkan deru laju kereta yang bisingnya minta ampun. Ada juga yang hanya duduk melamun menikmati pemandangan yang berkelebatan di luar sana dengan tatapan kosong. Eh, ada juga penjual asongan macam di bus ibu kota yang sedang menjajakan dagangannya. Saya baru ngeh kalau mereka juga ada di Rusia, bukan cuma di Indonesia.

Saking sibuknya, saya nggak sadar begitu ada orang yang menepuk bahu saya. Ternyata, itu suami saya.

Lho, kok, bisa? 

Ya, ternyata dia memutuskan untuk menyusuri lorong pertama sampai lorong terakhir, mencari ulang gerbong nomor 5. Hasilnya, dia menemukan saya di gerbong nomor 5 yang ketiga. Yang ketiga?

Iya, karena gerbong nomor 5 itu ternyata ada 3. Dengan nomor yang sama.

Usut punya usut, gerbong-gerbong itu ternyata digandeng seadanya. Makanya nomor 5-nya ada 3.

Eh, buset…

Поделиться в facebook
Facebook
Поделиться в twitter
Twitter
Поделиться в vk
VK
Поделиться в email
Email

Добавить комментарий

Закрыть меню